Impian Emas para Pengelola Zakat

Dalam berbagai kesempatan, tatkala mendiskusikan masalah pengelolaan zakat, tidak jarang terungkap kisah sukses pengelolaan zakat pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada masa itu, tingkat kesejahteraan ummat meningkat, dimana hal tersebut ditandai dengan sulitnya “menyalurkan” zakat kepada kaum fakir miskin, karena golongan penerima tersebut bisa dikatakan tidak ada. Catatan sejarah pengelolaan zakat pada masa Umar ke-2 ini, bagaimana impian emas bagi para pengelola zakat.

Impian itu memang bukanlah khayalan. Bahkan suatu keniscayaan manakala pengelolaan zakat memang dikelola sebagaimana yang dijalankan pada masa Umar tersebut. Hanyasaja, terdapat beberapa hal yang perlu dicermati atau senantiasa diingat, bahwasanya kesuksesan pengelolaan zakat pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz tidak terlepas dari beberapa hal berikut ini:

Pertama. Tegaknya Islam secara sempurna sebagai sebuah sistem kehidupan, dimana hal ini tercermin dari dijalankannya syariah Islam secara utuh dan menyeluruh. Demikian pula dari sisi pemerintahan, dimana kekhalifahan Islam tegak menaungi kaum muslimin.

Kedua. Hadirnya sosok Umar bin Abdul Aziz, yang merepresentasikan pemimpin yang konsisten dalam menegakkan Islam secara utuh, bukan hanya dalam pengelolaan zakat an sich, serta komitmennya terhadap Islam. Pemahaman dan perilaku sang pemimpin menjadi teladan bagi masyarakat.

Ketiga. Nilai-nilai Islam relatif hidup ditengah masyarakat, sehingga keterikatan mereka dengan ajaran Islam dan syariahnya cukup kokoh.

Itulah diantara 3 faktor kunci terwujudnya impian emas dalam masalah pengelolaan zakat pada masa Umar bin Abdul Aziz. Lalu, bisakah impian itu wujud tanpa hadirnya ke-3 faktor tersebut? Bisa dikatakan, hanya akan merupakan impian semata. Sebab, pengelolaan zakat sesempurna apapun, tidaklah mungkin bisa diwujudkan fungsi dan tujuannya, tanpa ditopang dengan tegaknya sistem atau bagian lain dalam Islam. Contoh kecil, jika syariah tidak tegak, tidak mungkin ditegakkan sanksi bagi yang menolak zakat. Begitupula ketidakhadiran sosok pemimpin yang patut diteladani akan semakin menjauhkan pengelolaan zakat dari upaya mensejahterakan ummat. Khalifah Umar hidup dalam kebersahajaan dan dalam standar paling minimum dari rakyatnya, ia pun mengorbankan harta kekayaannya untuk ummat, sehingga Umar yang diangkat dallam keadaan kaya raya meninggal dalam keadaan miskin. Tidak bisa kita berharap impian emas zakat akan wujud, jika para pemimpin atau setidaknya para pengola zakatnya, hidup dalam keberlimpahan dan menjalani gaya hidup yang jauh dari orang-orang miskin. Begitupula dengan hidupnya nilai Islam ditengah masyarakat, adalah kondisi atau malah prasayarat atas terciptanya kondisi ideal tersebut. Pada masa kekhalifahan, orang-orang aghniya (kaya) komitmen dengan ajaran Islam dan menjalani hidup secara bersahaja, demikian pula orang-orang miskinnya memiliki kehormatan dan menjaga dirinya (iffah). Sedangkan di masa sekarang, dimana orang-orang kaya berlomba dalam kemewahan dan bergaya hedonis, sementara orang miskinnya dibakar hasad dan dendam, maka sulit menumbuhkan zakat ditengah masyarakat seperti itu. Bahkan, da’wah harus seiring dan sejalan dengan pengelolaan zakat. Tanpa da’wah, mengelola zakat bagai menaburkan benih ke padang tandus.

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: