Perencanaan Pengelolaan Zakat

Bagaimana sebuah lembaga pengelola zakat menyusun rencana kerjanya? Atau lebih mudahnya, darimana rencana kerja lembaga pengelola zakat dimulai?

Secara umum, ada dua pendekatan dalam menyusun rencana kerja sebuah lembaga pengelola zakat. Pendekatan pertama, menyusun rencana berdasarkan proyeksi dari bagian penghimpunan (fundraising). Berapa dana yang diproyeksikan akan dihimpun oleh bidang penghimpunan dalam masa tersebut (misal dalam tahun 2009 ini), maka dari angka proyeksi tersebut berbagai kegiatan lembaga disusun termasuk angka untuk anggarannya selama masa tersebut. Pengalokasian dana disesuaikan dengan kebijakan alokasi dana yang telah ditetapkan, yang biasanya berdasarkan ketetapan dari dewan syariah (dewan pertimbangan). Pendekatan kedua, menyusun rencana dengan menginvetarisir seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan lembaga, dimana angka yang dianggarkan akan menjadi target yang harus diperoleh oleh bagian penghimpunan.

Pendekatan pertama (fundraising approach) lebih realistis dan mudah. Pendekatan ini dikatakan realistis karena disusun berdasarkan kemampuan lembaga dalam menghimpun dana. Angka yang ditargetkan, tentu saja keluar setelah melalui berbagai pertimbangan dan perencanaan dalam bagian penghimpunan, pertimbangan SWOT lembaga, aspek “marketing” dan lain sebagainya. Pendekatan ini pun lebih mudah, karena angka yang diperoleh bagian penghimpunan hanya tinggal menurunkan dan merincikannya (breakdown) sesuai dengan alokasi dan kebijakan lembaga.

Adapun pendekatan kedua, seringkali lebih sulit dan kadangkala tidak realistis. Kecenderungan lembaga untuk memperbanyak kegiatan dan kiprahnya adalah hal yang umum. Bagian pendayagunaan dipenuhi dengan berbagai pogram-program “unggulan”, yang tidak mempertimbangkan pendanaan dan resource lembaga. Demikian pula halnya dengan bagian lainnya. Bagian umum dan kesekretariatan pun berupaya memenuhi rencananya dengan berabagi item kegiatan dan sarana yang ideal. Sebagaimana pula yang diinginkan oleh bagian pengembangan SDM dan bagian-bagian lainnya. Semua item dan kegiatan itu diinventarisir lengkap dengan angka (anggaran biayanya) dan menjadi angka (target) yang harus diperoleh bagian penghimpunan. Selama bagian penghimpunan menerima atau menganggap angka tersebut realistis, tentu tidak masalah. Tetapi, jika dipandang tidak realistis atau jauh diatas kemampuan yang dimiliki lembaga (penghimpunan) maka rencana itupun perlu direvisi atau malah disusun ulang. Dan itulah yang acap terjadi, jika pendekatan kedua yang digunakan dalam menyusun rencana.

Tag Technorati: {grup-tag},,,,

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: