“Santunan” Mustahik

Dalam rapat komisi BAZ Jabar baru lalu, ada istilah yang cukup mengusik, yakni santunan mustahik. Bukan sekedar ketidaktepatan istilah yang mengusik, tetapi juga konsep yang melahirkan istilah tersebut. Dari istilah ini, mustahik diposisikan sebagai obyek penderita. Pandangan khas konsep “materialism”, baik kapitalisme maupun sosialisme, yang melihak orang miskin sebagai “masalah”, penyakit dan problem masyarakat.

Karena itu, hal pertama yang saya sampaikan dalam rapat tersebut, adalah rasa heran mengapa menggunakan istilah santunan, seolah mustahik (orang miskin) dalam posisi menerima bantuan. Padahal, dari istilah mustahik saja, Islam telah menempatkan posisi mereka (termasuk orang miskin) dalam posisi yang terhormat, yakni golongan yang berhak atas harta (zakat). Harta zakat yang diberikan kepada mereka, bukanlah santunan, tetapi amanah atau titipan bagi lembaga yang memang seharusnya disampaikan. Dari sisi orang miskin, harta (zakat) yang mereka terima bukanlah santunan, pemberian alakadarnya atau derma kasih sayang, tetapi itu adalah hak mereka. Hak yang dijamin oleh syariah dan lembaga pengelola zakat, adalah lembaga yang menjalankannya yakni menjamin tersampaikannya hak mereka.

Posisi fakir miskin di dalam masyarakat memang sangat lemah. Ironisnya, posisi ini pun diperburuk dengan paradigma yang salah dalam melihat kemiskinan dan orang-orang miskin. Karena itu, slogan pengentasan kemiskinan seolah menjadi hal yang wajib untuk menarik masyarakat dalam mendonasikan dana ke lembaga pengelola zakat, atau untuk menunjukkan kepedulian partai atas “masalah” rakyatnya. Ironisnya lagi, paradigma yang lebih kurang sama, pun menjangkiti para pengelola zakat. Jargon-jargon pengentasan kemiskinan, mengurangi kemiskinan dan sejenisnya, seolah menjadi kalimat wajib untuk menjual program-programnya. Pada saat yang sama, jargon-jargon ekonomi produktif semakin mempertegas posisi dan keberpihakan lembaga pengelola zakat. Jika tidak berkaitan dengan masalah ekonomi, maka tidaklah produktif dan itu digolongkan sebagai santunan. Konsumtif. Dan penggolongan lainnya.

Padahal kehadiran orang-orang miskin adalah sunnah kauniyah, sunnatullah. Kehadiran mereka membantu mengokohkan struktur masyarakat dalam paradigma sosial Islam. Dan tidak mungkin golongan ini ditiadakan, selain itu, keberadaan mereka pun sangat diperlukan. Karena itulah Islam, melalui zakat-nya, tidak bermaksud memberantas orang-orang miskin, tetapi menjamin bahwa orang-orang miskin memperoleh hak-hak mereka dan mendapatkan perlindungan ditengah masyarakat. Mereka, berhak untuk memperoleh layanan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk fungsi itu pulalah baitul maal, amilin atau lembaga pengelola zakat ada, yakni untuk menjamin hak-hak orang miskin. Dana-dana yang diambil dari aghniya (kaum kaya) disampaikan kepada orang-orang yang miskin, yakni mereka yang berhak. Harta (zakat) itu bukan santunan, tetapi hak mereka.

Alhamdulillah di penghujung rapat, dalam sidang pleno, pak Profesor Endang Sutari, pun menyoal istilah tersebut. Santunan mustahik, kata beliau adalah istilah yang tidak tepat, karena itu adalah hak mereka bukan santunan…

Tags: , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: